Sabtu, 01 Agustus 2015

JOKER

Pemikiran seorang pelajar

Sekolah, belajar, lulus, kerja, menikah, bahagia, dan meninggal. Itu adalah hidup? Gue  rasa hidup tidak tidak sesimple itu kawan.. hahaha.” itulah yang gue pikirkan diatas pohon ini.
            Nama gue  Dika Maulana, gue sedang bersandar diatas rumah pohon ini. Sambil memikirkan apa yang ada dipikiran gue, gue juga menjawabnya sendiri sambil merenungkan. Mungkin ini sedikit aneh, tapi beginilah gue, terkadang suka memikirkan pertanyaan yang bisa dibilang aneh, haha.
            “Mengapa kita hidup?” pertanyaan itulah yang sering kali gue pikirkan. Walaupun tidak pasti, gue mengetahui sedikit tentang jawaban dari pertanyaan itu. Dan mungkin, jawabannya adalah karena “Takdir”. Gue rasa tuhan adil, dia ingin ciptaannya bahagia. Dari yang sudah ada sampai yang belum lahir. Dan mungkin kita lah yang termasuk dalam kategori belum lahir. Tapi, kita sudahlah lahir sekarang.
            Tuhan ingin kita bahagia, tentu dengan rencanya yang tidak bisa kita tebak, namun sangat sempurna. Walaupun nasib buruk sering menghantui gue, gue tetap akan percaya, bahwa tuhan menciptakan kita beserta keadaan yang kita yang sekarang dengan tujuan tertentu.
            “Yo! Dika! Turun lu! Jangan ngendok mulu diatas! Udah kayak burung lu! Hahaha.” kata Nofal sambil ngeledek.
Nofal adalah sahabat gue dari SMP, sampe SMA sekarang ini.
            “Males gue! Lu aja sini yang keatas, anginnya sejuk, men.”
Menikmati sabtu pagi diatas rumah pohon memang enak banget, karena didaerah gue pohonnya banyak yang belum ditebang. Terkadang gue merasa miris sama Negeri ini, kenapa banyak pohon yang harus ditebang demi industri? Padahal perindustrian di Indonesia sudah cukup banyak menurut gue. Tapi balik kepemikiran awal, mungkin tuhan merencanakan sesuatu yang indah. Hehe, keep calm and positif thinking!
Dia naik kerumah pohon, dan gue pengen nanya apa yang ada didalem tas dia.
            “Fal, apaan tuh didalem tas lu? Gede banget kayaknya.”
            “Ini laptop gue, Yo! ada yang pengen gue kasih tau.”
            “Apaan? Muka lu gak usah cengar cengir kali, biasa aja.”
            “Lu tau Airin? Adek kelas kita, dari kelas X-2 !”
            “Iya gue tau, kenapa? Lu suka yah sama dia?”
            “Yoi, yo! gak usah muna deh lu, lu juga suka kan sama dia? Hahaha.”
            Selepas dari pandangan gue yang ‘mungkin’ kelewat jauh, tapi walaupun gitu gue masih normal kok. Sebagai seorang pria sejati, wajar lah kalau suka sama cewek yang cakep, apalagi Airin juga katanya pinter, idaman banget tuh. hahaha.
            Tapi selepas dari pandangan gue yang normal itu, gue punya pandangan lain yang mungkin gak semua cowo punya. “Gue Bangga Jadi Jomblo!” yap, itu adalah pandangan gue selama ini. Seenggaknya prinsip itu bakal bertahan sampai gue punya penghasilan sendiri.
            Keren? Yoi! Walaupun kedengerannya sedikit naif, tapi gue tetap akan berusaha mempertahankan prinsip gue. Karena gue beda dari cowo yang lain. Seenggaknya gue percaya, walaupun gue punya pacar dan membuatnya bahagia, tapi pake duit ortu? Itu nggak keren kawan. Mangkanya gue bakal pertahanin prinsip gue itu setidaknya sampai gue sukses. Dan kesuksesan itu bukan omongan belaka. Sukses juga butuh kerja keras!
            “Terus, lu mau gue ngapain?”
            “Bantu gue, yo!”
            “Gokil lu men, nyuruh saingan lu sendiri buat ngebantu dapetin gebetannya. Haha.”
            “Jadi udah diputuskan kan? Lu bantu gue, yo! Tenang, lu bakal jadi orang pertama yang gue kasih PJ! Hahaha.”
            “Sial lu, men. Tapi inget ya, jangan terlalu berharap. Nanti kalau ditolak sakit loh.”
            “Ya, gue tau kok. Tenang aja.”
            Dia ngomong lebih santai dari sebelumnya, sambil menatap ke arah pohon yang bergoyang ditiup angin. Kayaknya dia udah mikirin hal ini mateng mateng. Tapi walaupun begitu gue tetap sama prinsip gue. Dan sebagai sahabat, gue hanya bisa berdo’a yang terbaik buat dia...
“Jadi, apa rencana lu, men?”
“Yoyoyo... gue gak boleh gegabah, gue butuh persiapan sebelum bikin rencananya.”
“Jadi, apa persiapan lu?”
“Kita tunggu hari senin, gue setidaknya butuh 3-5 hari untuk melihat situasi, yo!”
Ya, itulah Nofal. Dia punya cara berfikir yang hampir sama dengan gue. Berfikir sebelum bertindak. Dan selalu berhati-hati, dan berusaha sebaik mungkin. Tapi tetap saja, Tuhan yang akan menentukan hasilnya.
“Ntar dulu, kalo nanti rencana lu gagal sebelum dibuat gimana?” Tanya gue.
“Hmm, iya juga yo.. gue butuh rencana cadangan didalam rencana yang belum jadi.” Kata dia, sambil menutup mulut seperti orang yang sedang berfikir.
“Ah, gue tau! Gimana kalau rencananya gagal, ini bakal jadi rencana gue buat PDKT sama Airin?” Jawab gue sambil cengar cengir.
“Ha-ha-ha *ketawa gak niat*, bercanda lu garing, yo.” Dia ngebales sambil natap jijik.
“Ohh, ok” jawab gue datar.
*Hening sejenak*
“Ok, balik ke topik sebelumnya. kalau lu udah dapet ide gimana tuh?” kata gue, memecahkan keheningan.
“Gue kasih tau ke lu, yo. Kita kan sebangku, jadi gak bakal susah lah buat ngasih tau lu rencana gue.”
“Hmm, ok. Gue ngerti.”
            Lalu terjadi sebuah keheningan lagi, dan kita menyetel lagu dari laptop dia. Gue sih sambil mikir, Airin? Hmm, dia adalah adik kelas gue. Dan kayaknya sih dia emang agak populer. Tadi gue bilang dia cewe idaman kan? Apa gue berfikir untuk macarin dia? Kayaknya nggak mungkin deh, nggak mungkin dia nerima gue yg biasa-biasa aja.
#Koment untuk masukannya kawan!

#JombloKeren #Fiksi #Part 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar