Sabtu, 01 Agustus 2015

JOKER

HARI YANG PENUH DENGAN HARAPAN

“Pagi hari yang membosankan... setidaknya gue yakin, 80% pelajar memikirkan apa yang gue pikirkan di pagi hari ini... Hari senin.”
            Tapi gue rasa pemikiran rasional ini tidak terjadi untuk sahabat gue yang sedang “falling in love”. Kelas X-2 memiliki murid cewe yang lumayan banyak, dan kebetulan Airin ada dibarisan paling belakang. Dan gue lihat Nofal udah tau, gue rasa itulah yang jadi penyebab dia milih barisan paling belakang di Upacara Bendera kali ini. Kebetulan kelas X-2 memang bersebelahan dengan kelas gue, XI-1.
            Gue ngeliatin Nofal, dia bukannya ngobrol dengan Airin. Tapi dengan temannya yang cewe disebelahnya. Mungkin mereka sedang membuat rencana, karena beberapa kali Nofal melirik Airin dan bercanda juga dengannya. Dan setelah itu mereka bertiga jadi sering ngobrol, mungkin rencananya sudah siap dengan baik. Entahlah, gue hanya menebak, haha.
            “HEI KALIAN KELAS X-2 DAN XI-1 BARISAN BELAKANG! DENGARKAN SAYA!” Omel guru killer yang sedang berpidato saat Upacara Bendera.
            “Gila, abis nih gue kalo ikut-ikutan kena. Mending gue pura-pura gak tau aja deh.” Pikir gue dalam hati.
            “Maaf pak, saya gak akan berisik lagi!” Teriak Nofal dengan tegas dan penuh penyesalan.
            “Oh, jadi kamu mengakui? Bagus! Bapak maafkan! Tapi jangan diulangi lagi yah! Kamu itu seorang pelajar, apa jadinya kalau pelajar jaman sekarang sudah tidak menghargai Upacara seperti ini? Upacara adalah bagian dari ungkapan rasa hormat kepada para pahlawan jaman dahulu yang membela Bangsa Indonesia.......” Guru killer melanjutkan pidatonya.
            Nofal yang menurut gue anak baik-baik berani mengakui kesalahannya, hebat! Dia emang laki-laki sejati! Dan sahabat yang nggak nyusahin! Dan gue rasa dia juga berhasil ngelindungin adik kelasnya, terutama gebetannya. Dan gue juga yakin, dia pasti malu dan gondok abis! Hahaha.
            “Dik, si Nofal kenapa sih? Kayaknya hari ini dia beda banget. Main sama adek kelas lagi.” Kata Ara.
           
Ara adalah temen sekelas gue. Kalo mukanya, jelek nggak, cantik juga nggak terlalu sih menurut gue. Tapi dia emang selalu asik kalo diajak ngobrol. Dan ada gosip, katanya si Ara suka sama Nofal. Tapi gue adalah orang yang nggak terlalu percaya sama gosip, sebelum gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri.
“Gue rasa wajar lah dia ngobrol sama adek kelas. Dia kan orangnya sok asik sama siapa aja. Hahaha.”
“Hmm, PDKT kali... Liat tuh, masa ngobrolnya sama adek kelas yang populer itu! Siapa deh namanya? Gue lupa.”
“Airin?”
“Nah, Iya! Airin!”
“Emangnya salah ya kalo ada cowo ngobrol sama Airin? Atau..... lu cemburu ya?” kata gue sambil masang tampang cengengesan.
“Sok tau lu. Hahaha. Lu kali yang cemburu Airin dideketin. Lu satu ekskul kan sama Airin? Dia anggota PMR kan?”
“Sial lu! Haha. Iyee, Airin junior gue di ekskul PMR.”
*Teeetttttt.... teeettttttt...... teeeeeetttttttt*
Bel masuk kelas berbunyi. Akhirnya, setelah panas terik matahari. Yang menyinari gue, tidak! Yang menyengat gue dengan penuh kebencian! Gue sekarang bisa duduk dan berteduh dikelas yang nyaman dan aman! HAHAHAHAHA!
Ekhem. Ok, sorry. Tadi gue sedikit mendramatisir. Hehe. *krik krik krik*
Suasana senin pagi dikelas seperti biasa, setelah upacara semua murid dikelas gue pasti berisik dan heboh. Kecuali gue. Daripada bercanda gak jelas, mendingan gue manfaatin waktu sebaik baiknya! Keren? Yoi! Bijak? Harus.







Seperti yang gue bilang tadi, gue memanfaatkan waktu sebaik baiknya. Belajar? Ntar deh, masih capek. Jadi gue istirahat dulu beberapa menit. Setelah beberapa menit istirahat, gue baca buku fisika. Gue emang suka sama pelajaran fisika. Emang banyak orang yang bilang fisika itu susah. Tapi menurut gue fisika itu sederhana. Soalnya, rumusnya itu itu aja! Dari SD-SMA, gue gak pernah liat tuh ada rumus fisika yang berubah. Misalnya, rumus kalor kan seharusnya  = m × c ×  (baca: Q = macet), gak mungkin pas lu kuliah berubah jadi "(baca: Q = lancar). Jadi intinya tinggal inget rumus, masalah selesai deh.
Guru fisika gue pernah bilang, “Orang yang bisa fisika itu sudah pasti pinter MTK, tapi orang yang pinter MTK belum tentu bisa fisika.”. tapi gue rasa pendapat itu nggak sepenuhnya benar! Fisika itu menurut gue 30% teori, 70% hitung-hitungan dasar (misalnya: +, -, x, :, ^, dll.)
Sedangkan MTK menurut gue 10% teori, 90% hitung-hitungan campuran (dasar & diperdalam). Yang dasar tadi udah gue kasih tau, sekarang tinggal yang “diperdalam”. Itu maksudnya adalah hitung-hitungan yang sudah mulai sulit (seperti: , dll.). Ok, mungkin tadi tidak terlalu menarik. Tapi untuk sekedar info dan opini gue aja.

*TOK TOK TOK!* suara penghapus yang dipukul ke papan tulis oleh guru fisika. Dia udah masuk ternyata.

“Anak-anak, seperti yang bapak bilang. Hari ini ada ulangan harian!” kata guru.
“Yahhhhh, pak.... boleh liat buku yah?” Celetuk temen gue
“Boleh, tapi nilai kamu bapak kurangin 95!”
“Hahahahahaha” Ketawa satu kelas.

Ulangan? Mungkin ini hal yang biasa buat gue. Bukan berarti gue genius yang pinter dalam segala hal. Gue Cuma “yakin” sama kemampuan gue. Bukan sekedar yakin, gue yakin karena gue udah berusaha! Gue juga berfikir, mungkin seorang yang genius “pasti” memiliki kisah-kisah sulit sebelum menjadi seorang genius.
Genius menurut gue adalah sebuah bakat, hasil kerja keras dan ketekunan. dan untuk mencapainya juga butuh kesabaran. Ini adalah alasan gue BANGGA lebih memilih jadi JOKER, Jomblo Keren! Jadi jomblo itu bebas, gak diatur pacar, jauh dari zina, dan banyak hal lainnya yang lebih bermanfaat ketimbang pacaran sebelum “Sah”.

Dan inilah hasil dari salah satu gue jadi JOKER sejak SMA, gue punya banyak waktu untuk belajar daripada liatin HP buat chatingan. Gue yakin pasti gak bakal remed disetiap ulangan. Tapi gue ngelirik Nofal saat ulangan baru dibagikan. Sepertinya selain mempersiapkan rencana buat PDKT, ternyata dia juga belajar. Jadi sepertinya dia gak terlalu kesusahan saat ngerjain tes.
Gue gak mau kalah dengan orang yang lagi PDKT, berbunga-bunga, apalagi sama yang pacaran! Gue bakal buktikan dengan nilai diulangan ini! Lihat saja kalian yang pacaran! Jadilah saksi bahwa JOKER adalah julukan yang hebat, dan gak selamanya jomblo itu ngenes! Gue bakal membuktikan bahwa jomblo itu akan penuh dengan PRESTASI! HAHAHAHAHA! Ekhem, ok, gue sepertinya mendramatisir lagi... tapi kata-kata gue tentang jomblo bisa lebih berprestasi itu bukan bercanda.
Tes Dimulai. Soal-soal terlihat bisa diatasi. Dan ketika gue lihat soal menjodohkan, disitu gue mulai merasa kesal. Karena jawabannya banyak yang mirip. Gue gak mau gegabah, gue tetap tenang. Seperti salah satu prinsip gue: “Tepat, Cepat & santai”, yang artinya gue harus fokus, cepat tapi berhati hati, agar tidak ada kesalahan dalam menjawab.
Suasana kelas seperti medan perang sekarang. Seperti ujian Chunin awal tingkat pertama dalam anime NARUTO. Dimana siswa ingin mencontek tanpa ketahuan oleh pengawas. Tapi karena gue bisa, kayaknya gue gak harus nyontek. Lihat? Ini juga merupakan manfaat jadi JOKER. Keren? Jelas!
Deva, temen gue yang duduk dibelakang sepertinya udah sedia perang. Ada buku di kolong mejanya. Gue jadi iri karena gue milih tempat duduk paling depan. Habis mau gimana lagi? Mata gue Mines soalnya gara-gara kebanyakan nonton Anime. Ari di depan deva sepertinya udah tau rencana Deva, jadi Ari berusaha menutupi Deva agar lebih aman.
Guru gue ternyata berdiri dan berkeliling! Disaat itulah banyak murid yang panik, terutama Deva, karena LKS lumayan besar, jadi agak sulit buat mindahinnya. Sementara itu Nofal lirik ke kanan dan kebelakang. Dia gak ngelirik ke gue, karena dia tau gue pelit kalau masalah kunci jawaban, apalagi saat ulangan kayak gini. Hahaha.
“Waktunya 10 menit lagi!”
“Iya pakkkkkk!”
“Bapak keluar dulu, jangan ribut! Yang ribut bapak sobek ulangannya!”
Guru gue keluar kelas, hening sejenak. Saat guru sudah agak jauh, kelas kembali heboh. Nafsu untuk mencontek sudah tidak terbendung lagi kayaknya, temen-temen gue soalnya hijrahnya udah kebangetan demi nyontek! Gue pun hanya bisa terdiam dan memberikan senyum percaya diri gue. Karena sepertinya Cuma JOKER yang bisa kayak gue.

“HAYOOO! NGAPAIN KALIAN?! DUDUK KETEMPAT KALIAN MASING MASING!” kata guru fisika dari jendela belakang.
Ternyata dia pergi keluar itu hanya bohongan. Hanya pergi beberapa menit untuk memancing murid, lalu diam diam kembali dan mengintip dari jendela belakang. Gila! Guru fisika gue emang cerdik banget! Untung gue gak hijrah. Hahaha.
“Deva, Ari, Bagus, Bagas, Anton, Putri, Clara, dan Andinda! Maju kedepan!” kata guru fisika.
“I-iya pak...” jawab beberapa orang diantara temen gue yang dipanggil.
“Siapa lagi yang mencontek selain kalian? Jawab jujur! Tadi bapak liat ada banyak. Kalau nggak nambah minimal 2 orang, hukuman kalian akan saya beratkan!”
*hening*
*TOK!* suara penghapus yang dipukul ke papan tulis
“Jawab bapak! Bapak hitung mundur dari 1000 nih!”
“P-pak, kebanyakan itu” celetuk Ari.
“Diam! Terserah bapak! Ok karena kamu bilang begitu, bapak hitung mundur dari 3!”
*hening sejenak*
“3” “2”
“Hadi sama Alvin ikut nyontek pak!” jawab Clara dengan spontan.
“Ahh, gak soldier lu....” ucap Hadi.
“Solider pe’a, bukan soldier.” Kata Alvin.
“Maklum, gue kan gak bisa ngomong solider” jawab Hadi
“Itu bisa!”
“Itu Example bro, example...”
“Masa?”
“iya..”
“BODO!!!” Satu kelas ngejawab kayak gitu... gurunya juga ikutan... (O.o”)
“Ekhem! Udah udah! Jangan becanda terus! Maju kalian berdua! Ada lagi selain kalian yang mencontek?” kata guru fisika.
“Agus nyontek pak!” Kata Anton.
“Ah, yang benar kamu? Mana mungkin si Agus nyontek? Eh, Agus! Benar kamu nyontek?”
“E-enggak kok, pak” Kata Agus sambil membenarkan kacamata kudanya.
“Tuh kan, si Agus nggak nyontek! Kamu ini, jangan fitnah!”
Anjir, Agus sebenernya emang nyontek, tapi karena Tampangnya yang culun, dia jadi tidak mencurigakan. Parah, kelakukan dilihat dari penampilan dan muka. Ini nggak bener, seharusnya kita sebagai manusia tidak menilai orang dari covernya saja. Tapi memang sih, agak sulit untuk mengetahui sifat asli seseorang. Mangkanya, kalau mau nilai orang, harus bener bener tahu dulu kepribadian orang tersebut.
“Setelah selesai ulangan ini, kalian bersepuluh harus berdiri ditengah lapangan! Sampai saya mengizinkan kalian kembali kekelas. Mengerti?”
“Iya pak...” jawab mereka dengan suara datar.
“Jawab lebih keras!”
“Iya pak!”
“Sekarang kalian kembali duduk. Ulangan tinggal 5 menit lagi! Cepat selesaikan! Yang lambat bapak tinggal!”
Mereka kembali duduk. Suasana kelas menjadi hening. Gue mengecek kembali jawaban gue. Sepertinya udah gak ada yang harus gue khawatirin sekarang. Gue udah berusaha, kerja keras, dan tekun. Sekarang, tinggal berdo’a dan berharap kalau gue bisa jadi yang terbaik dari temen temen gue. Terutama dari yang pacaran.
*Setelah 10 menit*
“Waktu habis! Hitungan kesepuluh semua kertas jawaban harus sudah berada dimeja bapak!”
“Aduh, dik. Gue belum ngerjain beberapa nomor nih.” Kata nofal yang sedikit panik.
“Udah, ngasal aja.. daripada gak dikerjain.. siapa tau hoki, betul semua.”
“Gue tau lu ngarang tentang kata yang terakhir. Keberuntungan itu gak dateng tanpa ada usahanya, yo!”
“Iya sih lu bener. Tapi kan ini situasi darurat! Tapi itu terserah lu, men. Gue hanya menyarankan!”
“Ok, kalau begini gue harus menggunakan rencana B!” Dia ngomong dengan PD.
“Apaan tuh?”
“Ya, ngasal.” Jawab nofal datar.

Kami semua sudah mengumpulkan lembar jawaban, kemudian di guru fisika meminta untuk temen temen gue yang dipanggil tadi berdiri. Tapi tidak disuruh maju kedepan.
“Ngapain kalian berdiri?”
“Kan bapak yang nyuruh...” jawab Clara dengan polosnya.
“Diam kamu! Gak usah jawab!”
*hening sejenak*
“Kalian itu pelajar! Jangan menjadikan nyontek itu sebagai budaya kalian! Kamu juga Agus, jangan kira bapak gak tau. Kamu liat buku kan sama kayak si Deva?”
“I-iya pak...” Jawab Agus sambil menundukan kepalanya.
“Berdiri kamu! Iya, kamu...”
*Agus berdiri*
“Kalian bapak maafkan dengan satu syarat! Kalian harus berjanji gak akan nyontek lagi dan kalian harus meminta maaf kepada teman kalian!”
“Pak, itu dua syarat pak. Bukan satu.” Kata Hadi.
“Diam kamu! Mau bapak suruh pulang?”
“Kalau sekolah ngizinin sih saya mau pak, tapi satu kelas ya, jangan saya doang.”
“Diam! Masih berani jawab aja! Mau bapak suruh bersihin WC?”
*Hadi hanya diam dan menunduk*
“Kalau bapak tanya, jawab! Gak sopan kamu!”
“Kata bapak saya suruh diam?” Jawab Hadi dengan suara yang ngeledek
“Heh! Berani kamu ngeledek saya?!”
“Nggak pak... Maaf...”
“Yaudah cepet, kalian berpuluh minta maaf! Budi, kamu jangan dulu.”
“Teman teman, maafkan kami karena kami telah mencontek!” Kata mereka bersepuluh.
“Bapak nggak kedengeran! Ulangi!”
“TEMAN TEMAN, MAAFKAN KAMI KARENA KAMI TELAH MENCONTEK!”
“Bagus, kalian sudah mengakuinya. Ingat, kalian sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi! Sekarang kalian boleh duduk, kecuali Agus.”
“Terima kasih, pak. Karena telah menghukum kami. Kami minta maaf! Ucap temen gue yang cowo.
“Iya, pak. Terima kasih atas hukumannya! Kami juga minta maaf.” Kemudian yang cewe juga ikutan.
*kemudian mereka bersepuluh kembali duduk*
“Iya, sama-sama. Sekarang, Agus. Goyang Dumang sambil minta maaf didepan kelas sekarang! Cepat!”
*Satu kelas menahan ketawa*
“M-maaf pak, saya gak bisa.”
“Kenapa gak bisa? Tadi kamu bohong sama saya bisa?”
“M-maaf pak...”
“Anak anak, enaknya si Agus disuruh ngapain nih?”
“Suruh bersihin WC pak!” “Suruh loncat dari gedung sekolah pak!” jawab asal dari beberapa temen gue.
“Nah, Agus. Silahkan pilih... mau loncat dari gedung sekolah sambil minta maaf atau mau bersihkan WC?”
*Hening*
“Agus, kamu masih muda. Jangan mulai berbohong! Kalau gede jadi pejabat negara bagaimana? Mau bohongin rakyat juga? Sanggup nanggung dosa dari ngebohongin milyaran orang yang ada di Indonesia?”
“Tidak... Maaf pak...” Jawab Agus dengan suara melas.
“Baiklah, saya maafkan.. tapi janji yah lain kali gak akan kayak gini lagi? Apalagi bohongin orang?”
“Iya pak, saya janji.”
Mereka yang tadi disuruh berdiri, menunduk. Dari ekspresi mereka kayaknya mereka nggak mau nerima kenyataan. Kelihatan juga kalau mereka memegang harapan untuk tidak dihukum terlalu berat. Mereka berharap kebaikan dari seorang guru. Gue rasa mereka malu, dan menyesal. Yah, inilah hidup. Dimana penyesalan datang terlambat. Karena kalau datangnya diawal, itu pendaftaran.
“Kamu sekarang boleh duduk. Baiklah, bapak sudah melihat lembar jawaban kalian. Dan bapak lihat, nilai tertinggi diraih oleh DIKA MAULANA! Eh, apa ini? Dibagian bawah kertasnya ada hastag JOKER? Apa itu JOKER?”
“JOMBLO KERE, PAK!” jawab satu kelas
“HAHAHAHAHA” Satu kelas ketawa.
“Bohong pak, mereka kurang huruf “N”. Jadinya Jomblo Keren, pak.”
“Heh? Narsis banget kamu, hahaha. Tapi ok lah, kamu keren karena mendapatkan nilai tertinggi lagi dikelas.. selamat!”
“Iya, pak. Makasih!”
“Tapi jomblo tetap saja jomblo!”
“HAHAHAHAHA” satu kelas ketawa
“Diam! Contoh si Dika ini! Mulai sekarang, berfikirlah seperti Dika! Walaupun Jomblo, tapi dia berprestasi! Ok? Kalau begitu,  bapak pamit!”
“Iya pakkkkkk” jawab satu kelas
“Kamu juga, Dika! Pertahankan Prestasi kamu! Dan ubah pendirian kamu kalau kamu sudah sukses nanti! Jangan sampai jadi JODI, Jomblo ABADI”
“Siap, pak!” Jawab gue tegas.

Mulai sejak itu, suasana kelas menjadi seperti biasa.. heboh. Tidak ada ketegangan. Tapi, gue seneng. Karena kemenangan jadi milik gue! Gue bisa mengalahkan orang yang falling in love atau semacamnya lagi.
#Koment untuk masukannya kawan! masih ada part selanjutnya loh;)

#JombloKeren #fiksi #Part2

JOKER

Pemikiran seorang pelajar

Sekolah, belajar, lulus, kerja, menikah, bahagia, dan meninggal. Itu adalah hidup? Gue  rasa hidup tidak tidak sesimple itu kawan.. hahaha.” itulah yang gue pikirkan diatas pohon ini.
            Nama gue  Dika Maulana, gue sedang bersandar diatas rumah pohon ini. Sambil memikirkan apa yang ada dipikiran gue, gue juga menjawabnya sendiri sambil merenungkan. Mungkin ini sedikit aneh, tapi beginilah gue, terkadang suka memikirkan pertanyaan yang bisa dibilang aneh, haha.
            “Mengapa kita hidup?” pertanyaan itulah yang sering kali gue pikirkan. Walaupun tidak pasti, gue mengetahui sedikit tentang jawaban dari pertanyaan itu. Dan mungkin, jawabannya adalah karena “Takdir”. Gue rasa tuhan adil, dia ingin ciptaannya bahagia. Dari yang sudah ada sampai yang belum lahir. Dan mungkin kita lah yang termasuk dalam kategori belum lahir. Tapi, kita sudahlah lahir sekarang.
            Tuhan ingin kita bahagia, tentu dengan rencanya yang tidak bisa kita tebak, namun sangat sempurna. Walaupun nasib buruk sering menghantui gue, gue tetap akan percaya, bahwa tuhan menciptakan kita beserta keadaan yang kita yang sekarang dengan tujuan tertentu.
            “Yo! Dika! Turun lu! Jangan ngendok mulu diatas! Udah kayak burung lu! Hahaha.” kata Nofal sambil ngeledek.
Nofal adalah sahabat gue dari SMP, sampe SMA sekarang ini.
            “Males gue! Lu aja sini yang keatas, anginnya sejuk, men.”
Menikmati sabtu pagi diatas rumah pohon memang enak banget, karena didaerah gue pohonnya banyak yang belum ditebang. Terkadang gue merasa miris sama Negeri ini, kenapa banyak pohon yang harus ditebang demi industri? Padahal perindustrian di Indonesia sudah cukup banyak menurut gue. Tapi balik kepemikiran awal, mungkin tuhan merencanakan sesuatu yang indah. Hehe, keep calm and positif thinking!
Dia naik kerumah pohon, dan gue pengen nanya apa yang ada didalem tas dia.
            “Fal, apaan tuh didalem tas lu? Gede banget kayaknya.”
            “Ini laptop gue, Yo! ada yang pengen gue kasih tau.”
            “Apaan? Muka lu gak usah cengar cengir kali, biasa aja.”
            “Lu tau Airin? Adek kelas kita, dari kelas X-2 !”
            “Iya gue tau, kenapa? Lu suka yah sama dia?”
            “Yoi, yo! gak usah muna deh lu, lu juga suka kan sama dia? Hahaha.”
            Selepas dari pandangan gue yang ‘mungkin’ kelewat jauh, tapi walaupun gitu gue masih normal kok. Sebagai seorang pria sejati, wajar lah kalau suka sama cewek yang cakep, apalagi Airin juga katanya pinter, idaman banget tuh. hahaha.
            Tapi selepas dari pandangan gue yang normal itu, gue punya pandangan lain yang mungkin gak semua cowo punya. “Gue Bangga Jadi Jomblo!” yap, itu adalah pandangan gue selama ini. Seenggaknya prinsip itu bakal bertahan sampai gue punya penghasilan sendiri.
            Keren? Yoi! Walaupun kedengerannya sedikit naif, tapi gue tetap akan berusaha mempertahankan prinsip gue. Karena gue beda dari cowo yang lain. Seenggaknya gue percaya, walaupun gue punya pacar dan membuatnya bahagia, tapi pake duit ortu? Itu nggak keren kawan. Mangkanya gue bakal pertahanin prinsip gue itu setidaknya sampai gue sukses. Dan kesuksesan itu bukan omongan belaka. Sukses juga butuh kerja keras!
            “Terus, lu mau gue ngapain?”
            “Bantu gue, yo!”
            “Gokil lu men, nyuruh saingan lu sendiri buat ngebantu dapetin gebetannya. Haha.”
            “Jadi udah diputuskan kan? Lu bantu gue, yo! Tenang, lu bakal jadi orang pertama yang gue kasih PJ! Hahaha.”
            “Sial lu, men. Tapi inget ya, jangan terlalu berharap. Nanti kalau ditolak sakit loh.”
            “Ya, gue tau kok. Tenang aja.”
            Dia ngomong lebih santai dari sebelumnya, sambil menatap ke arah pohon yang bergoyang ditiup angin. Kayaknya dia udah mikirin hal ini mateng mateng. Tapi walaupun begitu gue tetap sama prinsip gue. Dan sebagai sahabat, gue hanya bisa berdo’a yang terbaik buat dia...
“Jadi, apa rencana lu, men?”
“Yoyoyo... gue gak boleh gegabah, gue butuh persiapan sebelum bikin rencananya.”
“Jadi, apa persiapan lu?”
“Kita tunggu hari senin, gue setidaknya butuh 3-5 hari untuk melihat situasi, yo!”
Ya, itulah Nofal. Dia punya cara berfikir yang hampir sama dengan gue. Berfikir sebelum bertindak. Dan selalu berhati-hati, dan berusaha sebaik mungkin. Tapi tetap saja, Tuhan yang akan menentukan hasilnya.
“Ntar dulu, kalo nanti rencana lu gagal sebelum dibuat gimana?” Tanya gue.
“Hmm, iya juga yo.. gue butuh rencana cadangan didalam rencana yang belum jadi.” Kata dia, sambil menutup mulut seperti orang yang sedang berfikir.
“Ah, gue tau! Gimana kalau rencananya gagal, ini bakal jadi rencana gue buat PDKT sama Airin?” Jawab gue sambil cengar cengir.
“Ha-ha-ha *ketawa gak niat*, bercanda lu garing, yo.” Dia ngebales sambil natap jijik.
“Ohh, ok” jawab gue datar.
*Hening sejenak*
“Ok, balik ke topik sebelumnya. kalau lu udah dapet ide gimana tuh?” kata gue, memecahkan keheningan.
“Gue kasih tau ke lu, yo. Kita kan sebangku, jadi gak bakal susah lah buat ngasih tau lu rencana gue.”
“Hmm, ok. Gue ngerti.”
            Lalu terjadi sebuah keheningan lagi, dan kita menyetel lagu dari laptop dia. Gue sih sambil mikir, Airin? Hmm, dia adalah adik kelas gue. Dan kayaknya sih dia emang agak populer. Tadi gue bilang dia cewe idaman kan? Apa gue berfikir untuk macarin dia? Kayaknya nggak mungkin deh, nggak mungkin dia nerima gue yg biasa-biasa aja.
#Koment untuk masukannya kawan!

#JombloKeren #Fiksi #Part 1