HARI YANG PENUH DENGAN HARAPAN
“Pagi
hari yang membosankan... setidaknya gue yakin, 80% pelajar memikirkan apa yang
gue pikirkan di pagi hari ini... Hari senin.”
Tapi gue rasa pemikiran rasional ini
tidak terjadi untuk sahabat gue yang sedang “falling in love”. Kelas X-2
memiliki murid cewe yang lumayan banyak, dan kebetulan Airin ada dibarisan
paling belakang. Dan gue lihat Nofal udah tau, gue rasa itulah yang jadi
penyebab dia milih barisan paling belakang di Upacara Bendera kali ini.
Kebetulan kelas X-2 memang bersebelahan dengan kelas gue, XI-1.
Gue ngeliatin Nofal, dia bukannya
ngobrol dengan Airin. Tapi dengan temannya yang cewe disebelahnya. Mungkin
mereka sedang membuat rencana, karena beberapa kali Nofal melirik Airin dan
bercanda juga dengannya. Dan setelah itu mereka bertiga jadi sering ngobrol,
mungkin rencananya sudah siap dengan baik. Entahlah, gue hanya menebak, haha.
“HEI KALIAN KELAS X-2 DAN XI-1
BARISAN BELAKANG! DENGARKAN SAYA!” Omel guru killer yang sedang berpidato saat
Upacara Bendera.
“Gila, abis nih gue kalo ikut-ikutan
kena. Mending gue pura-pura gak tau aja deh.” Pikir gue dalam hati.
“Maaf pak, saya gak akan berisik
lagi!” Teriak Nofal dengan tegas dan penuh penyesalan.
“Oh, jadi kamu mengakui? Bagus!
Bapak maafkan! Tapi jangan diulangi lagi yah! Kamu itu seorang pelajar, apa
jadinya kalau pelajar jaman sekarang sudah tidak menghargai Upacara seperti
ini? Upacara adalah bagian dari ungkapan rasa hormat kepada para pahlawan jaman
dahulu yang membela Bangsa Indonesia.......” Guru killer melanjutkan pidatonya.
Nofal yang menurut gue anak
baik-baik berani mengakui kesalahannya, hebat! Dia emang laki-laki sejati! Dan
sahabat yang nggak nyusahin! Dan gue rasa dia juga berhasil ngelindungin adik
kelasnya, terutama gebetannya. Dan gue juga yakin, dia pasti malu dan gondok
abis! Hahaha.
“Dik, si Nofal kenapa sih? Kayaknya hari
ini dia beda banget. Main sama adek kelas lagi.” Kata Ara.
Ara adalah temen sekelas gue. Kalo mukanya,
jelek nggak, cantik juga nggak terlalu sih menurut gue. Tapi dia emang selalu
asik kalo diajak ngobrol. Dan ada gosip, katanya si Ara suka sama Nofal. Tapi
gue adalah orang yang nggak terlalu percaya sama gosip, sebelum gue ngeliat
dengan mata kepala gue sendiri.
“Gue rasa wajar lah dia ngobrol sama adek
kelas. Dia kan orangnya sok asik sama siapa aja. Hahaha.”
“Hmm, PDKT kali... Liat tuh, masa ngobrolnya
sama adek kelas yang populer itu! Siapa deh namanya? Gue lupa.”
“Airin?”
“Nah, Iya! Airin!”
“Emangnya salah ya kalo ada cowo ngobrol sama
Airin? Atau..... lu cemburu ya?” kata gue sambil masang tampang cengengesan.
“Sok tau lu. Hahaha. Lu kali yang cemburu
Airin dideketin. Lu satu ekskul kan sama Airin? Dia anggota PMR kan?”
“Sial lu! Haha. Iyee, Airin junior gue di
ekskul PMR.”
*Teeetttttt....
teeettttttt...... teeeeeetttttttt*
Bel masuk kelas berbunyi. Akhirnya, setelah
panas terik matahari. Yang menyinari gue, tidak! Yang menyengat gue dengan
penuh kebencian! Gue sekarang bisa duduk dan berteduh dikelas yang nyaman dan
aman! HAHAHAHAHA!
Ekhem.
Ok, sorry. Tadi gue sedikit mendramatisir. Hehe. *krik krik krik*
Suasana senin pagi dikelas seperti biasa,
setelah upacara semua murid dikelas gue pasti berisik dan heboh. Kecuali gue.
Daripada bercanda gak jelas, mendingan gue manfaatin waktu sebaik baiknya!
Keren? Yoi! Bijak? Harus.
Seperti yang gue bilang tadi, gue memanfaatkan
waktu sebaik baiknya. Belajar? Ntar deh, masih capek. Jadi gue istirahat dulu
beberapa menit. Setelah beberapa menit istirahat, gue baca buku fisika. Gue
emang suka sama pelajaran fisika. Emang banyak orang yang bilang fisika itu susah.
Tapi menurut gue fisika itu sederhana. Soalnya, rumusnya itu itu aja! Dari
SD-SMA, gue gak pernah liat tuh ada rumus fisika yang berubah. Misalnya, rumus
kalor kan seharusnya
= m × c ×
(baca: Q = macet), gak mungkin pas lu kuliah
berubah jadi "
(baca:
Q = lancar). Jadi intinya tinggal inget rumus,
masalah selesai deh.
Guru fisika gue pernah bilang, “Orang yang
bisa fisika itu sudah pasti pinter MTK, tapi orang yang pinter MTK belum tentu
bisa fisika.”. tapi gue rasa pendapat itu nggak sepenuhnya benar! Fisika itu
menurut gue 30% teori, 70% hitung-hitungan dasar (misalnya: +, -, x, :, ^,
dll.)
Sedangkan MTK menurut gue 10% teori, 90%
hitung-hitungan campuran (dasar & diperdalam). Yang dasar tadi udah gue
kasih tau, sekarang tinggal yang “diperdalam”. Itu maksudnya adalah
hitung-hitungan yang sudah mulai sulit (seperti:
,
dll.). Ok, mungkin tadi tidak terlalu menarik. Tapi untuk sekedar info dan
opini gue aja.
*TOK TOK TOK!* suara penghapus yang dipukul ke papan tulis oleh guru fisika. Dia
udah masuk ternyata.
“Anak-anak, seperti yang bapak bilang. Hari ini ada ulangan
harian!” kata guru.
“Yahhhhh, pak.... boleh liat buku yah?” Celetuk temen gue
“Boleh, tapi nilai kamu bapak kurangin 95!”
“Hahahahahaha” Ketawa satu kelas.
Ulangan? Mungkin ini hal yang biasa buat gue. Bukan berarti gue
genius yang pinter dalam segala hal. Gue Cuma “yakin” sama kemampuan gue. Bukan
sekedar yakin, gue yakin karena gue udah berusaha! Gue juga berfikir, mungkin
seorang yang genius “pasti” memiliki kisah-kisah sulit sebelum menjadi seorang
genius.
Genius menurut gue adalah sebuah bakat, hasil kerja keras dan
ketekunan. dan untuk mencapainya juga butuh kesabaran. Ini adalah alasan gue
BANGGA lebih memilih jadi JOKER, Jomblo Keren! Jadi jomblo itu bebas, gak
diatur pacar, jauh dari zina, dan banyak hal lainnya yang lebih bermanfaat
ketimbang pacaran sebelum “Sah”.
Dan inilah hasil dari salah satu gue jadi JOKER sejak SMA, gue
punya banyak waktu untuk belajar daripada liatin HP buat chatingan. Gue yakin
pasti gak bakal remed disetiap ulangan. Tapi gue ngelirik Nofal saat ulangan
baru dibagikan. Sepertinya selain mempersiapkan rencana buat PDKT, ternyata dia
juga belajar. Jadi sepertinya dia gak terlalu kesusahan saat ngerjain tes.
Gue gak mau kalah dengan orang yang lagi PDKT, berbunga-bunga,
apalagi sama yang pacaran! Gue bakal buktikan dengan nilai diulangan ini! Lihat
saja kalian yang pacaran! Jadilah saksi bahwa JOKER adalah julukan yang hebat,
dan gak selamanya jomblo itu ngenes! Gue bakal membuktikan bahwa jomblo itu
akan penuh dengan PRESTASI! HAHAHAHAHA! Ekhem, ok, gue sepertinya mendramatisir
lagi... tapi kata-kata gue tentang jomblo bisa lebih berprestasi itu bukan
bercanda.
Tes Dimulai. Soal-soal terlihat bisa diatasi. Dan ketika gue lihat
soal menjodohkan, disitu gue mulai merasa kesal. Karena jawabannya banyak yang
mirip. Gue gak mau gegabah, gue tetap tenang. Seperti salah satu prinsip gue:
“Tepat, Cepat & santai”, yang artinya gue harus fokus, cepat tapi berhati
hati, agar tidak ada kesalahan dalam menjawab.
Suasana kelas seperti medan perang sekarang. Seperti ujian Chunin
awal tingkat pertama dalam anime NARUTO. Dimana siswa ingin mencontek tanpa
ketahuan oleh pengawas. Tapi karena gue bisa, kayaknya gue gak harus nyontek.
Lihat? Ini juga merupakan manfaat jadi JOKER. Keren? Jelas!
Deva, temen gue yang duduk dibelakang sepertinya udah sedia
perang. Ada buku di kolong mejanya. Gue jadi iri karena gue milih tempat duduk
paling depan. Habis mau gimana lagi? Mata gue Mines soalnya gara-gara
kebanyakan nonton Anime. Ari di depan deva sepertinya udah tau rencana Deva,
jadi Ari berusaha menutupi Deva agar lebih aman.
Guru gue ternyata berdiri dan berkeliling! Disaat itulah banyak
murid yang panik, terutama Deva, karena LKS lumayan besar, jadi agak sulit buat
mindahinnya. Sementara itu Nofal lirik ke kanan dan kebelakang. Dia gak
ngelirik ke gue, karena dia tau gue pelit kalau masalah kunci jawaban, apalagi
saat ulangan kayak gini. Hahaha.
“Waktunya 10 menit lagi!”
“Iya pakkkkkk!”
“Bapak keluar dulu, jangan ribut! Yang ribut bapak sobek
ulangannya!”
Guru gue keluar kelas, hening sejenak. Saat guru sudah agak jauh,
kelas kembali heboh. Nafsu untuk mencontek sudah tidak terbendung lagi
kayaknya, temen-temen gue soalnya hijrahnya udah kebangetan demi nyontek! Gue
pun hanya bisa terdiam dan memberikan senyum percaya diri gue. Karena
sepertinya Cuma JOKER yang bisa kayak gue.
“HAYOOO! NGAPAIN KALIAN?! DUDUK KETEMPAT KALIAN MASING MASING!”
kata guru fisika dari jendela belakang.
Ternyata dia pergi keluar itu hanya bohongan. Hanya pergi beberapa
menit untuk memancing murid, lalu diam diam kembali dan mengintip dari jendela
belakang. Gila! Guru fisika gue emang cerdik banget! Untung gue gak hijrah.
Hahaha.
“Deva, Ari, Bagus, Bagas, Anton, Putri, Clara, dan Andinda! Maju
kedepan!” kata guru fisika.
“I-iya pak...” jawab beberapa orang diantara temen gue yang
dipanggil.
“Siapa lagi yang mencontek selain kalian? Jawab jujur! Tadi bapak
liat ada banyak. Kalau nggak nambah minimal 2 orang, hukuman kalian akan saya
beratkan!”
*hening*
*TOK!* suara penghapus yang dipukul ke papan tulis
“Jawab bapak! Bapak hitung mundur dari 1000 nih!”
“P-pak, kebanyakan itu” celetuk Ari.
“Diam! Terserah bapak! Ok karena kamu bilang begitu, bapak hitung
mundur dari 3!”
*hening sejenak*
“3” “2”
“Hadi sama Alvin ikut nyontek pak!” jawab Clara dengan spontan.
“Ahh, gak soldier lu....” ucap Hadi.
“Solider pe’a, bukan soldier.” Kata Alvin.
“Maklum, gue kan gak bisa ngomong solider” jawab Hadi
“Itu bisa!”
“Itu Example bro, example...”
“Masa?”
“iya..”
“BODO!!!” Satu kelas ngejawab kayak gitu... gurunya juga ikutan...
(O.o”)
“Ekhem! Udah udah! Jangan becanda terus! Maju kalian berdua! Ada
lagi selain kalian yang mencontek?” kata guru fisika.
“Agus nyontek pak!” Kata Anton.
“Ah, yang benar kamu? Mana mungkin si Agus nyontek? Eh, Agus!
Benar kamu nyontek?”
“E-enggak kok, pak” Kata Agus sambil membenarkan kacamata kudanya.
“Tuh kan, si Agus nggak nyontek! Kamu ini, jangan fitnah!”
Anjir, Agus sebenernya emang nyontek, tapi karena Tampangnya yang
culun, dia jadi tidak mencurigakan. Parah, kelakukan dilihat dari penampilan
dan muka. Ini nggak bener, seharusnya kita sebagai manusia tidak menilai orang
dari covernya saja. Tapi memang sih, agak sulit untuk mengetahui sifat asli seseorang.
Mangkanya, kalau mau nilai orang, harus bener bener tahu dulu kepribadian orang
tersebut.
“Setelah selesai ulangan ini, kalian bersepuluh harus berdiri
ditengah lapangan! Sampai saya mengizinkan kalian kembali kekelas. Mengerti?”
“Iya pak...” jawab mereka dengan suara datar.
“Jawab lebih keras!”
“Iya pak!”
“Sekarang kalian kembali duduk. Ulangan tinggal 5 menit lagi!
Cepat selesaikan! Yang lambat bapak tinggal!”
Mereka kembali duduk. Suasana kelas menjadi hening. Gue mengecek
kembali jawaban gue. Sepertinya udah gak ada yang harus gue khawatirin
sekarang. Gue udah berusaha, kerja keras, dan tekun. Sekarang, tinggal berdo’a
dan berharap kalau gue bisa jadi yang terbaik dari temen temen gue. Terutama
dari yang pacaran.
*Setelah 10
menit*
“Waktu habis! Hitungan kesepuluh semua kertas jawaban harus sudah
berada dimeja bapak!”
“Aduh, dik. Gue belum ngerjain beberapa nomor nih.” Kata nofal
yang sedikit panik.
“Udah, ngasal aja.. daripada gak dikerjain.. siapa tau hoki, betul
semua.”
“Gue tau lu ngarang tentang kata yang terakhir. Keberuntungan itu
gak dateng tanpa ada usahanya, yo!”
“Iya sih lu bener. Tapi kan ini situasi darurat! Tapi itu terserah
lu, men. Gue hanya menyarankan!”
“Ok, kalau begini gue harus menggunakan rencana B!” Dia ngomong
dengan PD.
“Apaan tuh?”
“Ya, ngasal.” Jawab nofal datar.
Kami semua sudah mengumpulkan lembar jawaban, kemudian di guru
fisika meminta untuk temen temen gue yang dipanggil tadi berdiri. Tapi tidak
disuruh maju kedepan.
“Ngapain kalian berdiri?”
“Kan bapak yang nyuruh...” jawab Clara dengan polosnya.
“Diam kamu! Gak usah jawab!”
*hening sejenak*
“Kalian itu pelajar! Jangan menjadikan nyontek itu sebagai budaya
kalian! Kamu juga Agus, jangan kira bapak gak tau. Kamu liat buku kan sama
kayak si Deva?”
“I-iya pak...” Jawab Agus sambil menundukan kepalanya.
“Berdiri kamu! Iya, kamu...”
*Agus berdiri*
“Kalian bapak maafkan dengan satu syarat! Kalian harus berjanji
gak akan nyontek lagi dan kalian harus meminta maaf kepada teman kalian!”
“Pak, itu dua syarat pak. Bukan satu.” Kata Hadi.
“Diam kamu! Mau bapak suruh pulang?”
“Kalau sekolah ngizinin sih saya mau pak, tapi satu kelas ya,
jangan saya doang.”
“Diam! Masih berani jawab aja! Mau bapak suruh bersihin WC?”
*Hadi hanya diam
dan menunduk*
“Kalau bapak tanya, jawab! Gak sopan kamu!”
“Kata bapak saya suruh diam?” Jawab Hadi dengan suara yang
ngeledek
“Heh! Berani kamu ngeledek saya?!”
“Nggak pak... Maaf...”
“Yaudah cepet, kalian berpuluh minta maaf! Budi, kamu jangan
dulu.”
“Teman teman, maafkan kami karena kami telah mencontek!” Kata
mereka bersepuluh.
“Bapak nggak kedengeran! Ulangi!”
“TEMAN TEMAN, MAAFKAN KAMI KARENA KAMI TELAH MENCONTEK!”
“Bagus, kalian sudah mengakuinya. Ingat, kalian sudah berjanji
untuk tidak mengulanginya lagi! Sekarang kalian boleh duduk, kecuali Agus.”
“Terima kasih, pak. Karena telah menghukum kami. Kami minta maaf!
Ucap temen gue yang cowo.
“Iya, pak. Terima kasih atas hukumannya! Kami juga minta maaf.”
Kemudian yang cewe juga ikutan.
*kemudian mereka
bersepuluh kembali duduk*
“Iya, sama-sama. Sekarang, Agus. Goyang Dumang sambil minta maaf
didepan kelas sekarang! Cepat!”
*Satu kelas
menahan ketawa*
“M-maaf pak, saya gak bisa.”
“Kenapa gak bisa? Tadi kamu bohong sama saya bisa?”
“M-maaf pak...”
“Anak anak, enaknya si Agus disuruh ngapain nih?”
“Suruh bersihin WC pak!” “Suruh loncat dari gedung sekolah pak!”
jawab asal dari beberapa temen gue.
“Nah, Agus. Silahkan pilih... mau loncat dari gedung sekolah
sambil minta maaf atau mau bersihkan WC?”
*Hening*
“Agus, kamu masih muda. Jangan mulai berbohong! Kalau gede jadi
pejabat negara bagaimana? Mau bohongin rakyat juga? Sanggup nanggung dosa dari
ngebohongin milyaran orang yang ada di Indonesia?”
“Tidak... Maaf pak...” Jawab Agus dengan suara melas.
“Baiklah, saya maafkan.. tapi janji yah lain kali gak akan kayak
gini lagi? Apalagi bohongin orang?”
“Iya pak, saya janji.”
Mereka yang tadi disuruh berdiri, menunduk. Dari ekspresi mereka
kayaknya mereka nggak mau nerima kenyataan. Kelihatan juga kalau mereka
memegang harapan untuk tidak dihukum terlalu berat. Mereka berharap kebaikan
dari seorang guru. Gue rasa mereka malu, dan menyesal. Yah, inilah hidup.
Dimana penyesalan datang terlambat. Karena kalau datangnya diawal, itu pendaftaran.
“Kamu sekarang boleh duduk. Baiklah, bapak sudah melihat lembar
jawaban kalian. Dan bapak lihat, nilai tertinggi diraih oleh DIKA MAULANA! Eh,
apa ini? Dibagian bawah kertasnya ada hastag JOKER? Apa itu JOKER?”
“JOMBLO KERE, PAK!” jawab satu kelas
“HAHAHAHAHA” Satu kelas ketawa.
“Bohong pak, mereka kurang huruf “N”. Jadinya Jomblo Keren, pak.”
“Heh? Narsis banget kamu, hahaha. Tapi ok lah, kamu keren karena
mendapatkan nilai tertinggi lagi dikelas.. selamat!”
“Iya, pak. Makasih!”
“Tapi jomblo tetap saja jomblo!”
“HAHAHAHAHA” satu kelas ketawa
“Diam! Contoh si Dika ini! Mulai sekarang, berfikirlah seperti
Dika! Walaupun Jomblo, tapi dia berprestasi! Ok? Kalau begitu, bapak pamit!”
“Iya pakkkkkk” jawab satu kelas
“Kamu juga, Dika! Pertahankan Prestasi kamu! Dan ubah pendirian
kamu kalau kamu sudah sukses nanti! Jangan sampai jadi JODI, Jomblo ABADI”
“Siap, pak!” Jawab gue tegas.
Mulai sejak itu, suasana kelas menjadi seperti biasa.. heboh.
Tidak ada ketegangan. Tapi, gue seneng. Karena kemenangan jadi milik gue! Gue
bisa mengalahkan orang yang falling in love atau semacamnya lagi.
#Koment untuk masukannya kawan! masih ada part selanjutnya loh;)
#JombloKeren #fiksi #Part2